Tiga Pilar Kompak Jadikan Kopi Senjata Utama Lawan Kemiskinan di Tapal Kuda
- account_circle Masitha
- calendar_month Jum, 28 Nov 2025

Bupati Jember, Muhammad Fawait dan Wakil Kepala BP Taskin, Iwan Sumule, saat mengunjungi stand dan mencoba kopi olahan dari Sekolah Raisa (Foto: Ist)
JEMBER, jplusmedia.com – Universitas Jember (UNEJ) bersama Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) dan Pemerintah Kabupaten Jember menegaskan komitmen bersama. Mereka menjadikan kopi sebagai instrumen strategis pengurangan kemiskinan di wilayah Tapal Kuda.
Komitmen ini mengemuka dalam Seminar Nasional di Auditorium UNEJ (25/11). Seminar bertemu dengan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas petani. Tamu utama hadir seperti Wakil Kepala BP Taskin, Ir. Iwan Sumule, dan Bupati Jember, Muhammad Fawait.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan UNEJ, Prof. Drs. Bambang Kuswandi, M.Sc., Ph.D., menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Wilayah Tapal Kuda memiliki sekitar 30.000 hektare lahan kopi. Ia berharap forum ini memunculkan usulan strategis untuk mengurangi kemiskinan melalui komoditas kopi.
Dari sisi kebijakan nasional, Ir. Iwan Sumule memaparkan pengembangan kopi berbasis desa harus menjadi strategi konkret penurunan kemiskinan berkelanjutan.
“Industrialisasi kopi berbasis desa harus menjadi jalan baru. Nilai tambahnya harus tinggal di desa, mulai dari pencucian hingga branding,” tegas Iwan Sumule. Ia menambahkan ketika nilai tambah kembali ke desa, petani memperoleh porsi yang layak.
Sementara itu, Bupati Jember, Muhammad Fawait, menyoroti ironi bahwa Jember memiliki kantong kemiskinan tertinggi meskipun potensi agrarisnya besar.
“Kami mendorong hutan sosial untuk menjadi solusi konkret. Melalui 41 ribu hektare lahan yang dapat dikelola masyarakat, setidaknya 41 ribu rumah tangga bisa kita angkat dari kemiskinan,” jelas Fawait.
Hal ini merupakan upaya menuju zero miskin ekstrem di tahun 2029 dan memperkuat posisi Jember sebagai motor ekonomi Tapal Kuda.
Dalam sesi diskusi, Kepala LP2M UNEJ, Prof. Dr. Yuli Witono, menegaskan kemajuan industri kopi tidak boleh berhenti di tingkat hilir. Ia mengingatkan tantangan terbesar justru berada di hulu.
- Penulis: Masitha
- Editor: Bambang

