Guru Besar UNEJ Kembangkan Sel Surya Berbasis Tanaman Tropis Lokal
- account_circle Masitha
- calendar_month Sabtu, 8 Nov 2025
- print Cetak

Guru Besar UNEJ Kembangkan Sel Surya Berbasis Tanaman Tropis Lokal (Foto: Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JEMBER, jplusmedia.com – Universitas Jember (UNEJ) memperkuat posisinya sebagai pionir riset energi terbarukan berbasis kearifan lokal. Prof. Dr. Edy Supriyanto, S.Si., M.Si., Guru Besar baru dalam bidang Ilmu Fisika Sel Surya, resmi dikukuhkan dengan orasi ilmiah revolusioner bertajuk “Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) dari Bumi Tropis: Inovasi Energi Surya Berbasis Sumber Daya Lokal.”
Prof. Edy memaparkan gagasan pengembangan teknologi sel surya generasi ketiga (DSSC) yang menggabungkan ilmu fisika, kimia material, dan teknik elektro. Fokus utamanya meliputi pemanfaatan tanaman lokal seperti kunyit dan kopi sebagai pewarna alami, serta inovasi material melalui doping logam untuk meningkatkan efisiensi.
Gagasan ini bertujuan untuk implementasi DSSC skala komunitas guna mendukung kemandirian energi di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Ini menjadi bagian dari visi jangka panjang dalam roadmap riset 2015–2038 untuk menciptakan DSSC tropis yang mandiri dan tahan panas.
“Tujuan utama kepakaran saya adalah untuk mengembangkan teknologi energi surya berbasis kearifan lokal dan bahan alami yang cocok untuk iklim tropis Indonesia serta dapat diterapkan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar),” jelasnya.
Berawal dari refleksi akan potensi besar energi matahari di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal, Prof. Edy terdorong mencari solusi teknologi energi surya yang murah, fleksibel, dan cocok untuk iklim tropis. Pilihannya jatuh pada DSSC yang memiliki keunggulan efisien dalam cahaya difus dan suhu tinggi, mudah diproduksi, serta dapat menggunakan pewarna alami lokal.
“Saya bersama team menekankan bahwa DSSC bukan sekadar teknologi, melainkan bagian dari cerita kemandirian bangsa, karena tanaman lokal yang dulu hanya dianggap limbah, kini bisa menjadi sumber energi bersih,” ujarnya.
Dalam mengembangkan DSSC, Prof. Edy mengakui dihadapkan pada serangkaian tantangan, mulai dari aspek teknis hingga sosial-ekonomi, terutama efisiensi DSSC berbasis pewarna alami yang masih relatif rendah. Sementara itu, peran dan dukungan keluarga sangat penting dalam perjalanan Prof. Edy hingga mencapai gelar Guru Besar.
- Penulis: Masitha
- Editor: Bambang


